Jumat, 06 Desember 2013

Menjadi Tenaga Pengajar Justru Berbuat Kurang Ajar

Menjadi Tenaga Pengajar Justru Berbuat Kurang Ajar

nah-sub
USTAD Achyar, 40, dari Parakan Temanggung (Jateng) ini sungguh kurang ajar. Jadi tenaga pengajar di ponpes, eh….. malah syahwatnya yang diumbar. Enam santri wanita ada yang cuma dicabuli, tapi ada pula yang digumuli. Kata guru ngaji keblinger ini,  hasratnya sudah nggak ketahan lagi, bro!
Daerah Parakan terkenal ayam Kedu-nya. Tahu ayam Kedu? Dia merupakan spesies unggas yang warna kulit, bulu, jengger, mata; semuanya item. Bahkan jika tulang kakinya juga berwarna hitam, konon bisa dimanfaatkan untuk kegiatan paranormal. Ada nggak yang matanya ijo? Ada, tapi itu ayam Kedu berdasi, yang menunya bukan gabah atau katul, melainkan ”apel Malang” dan ”apel Washington”.
Ustad Achyar juga berkulit hitam, seperti ayam Kedu. Karena itu mungkin, dia kelakuannya juga seperti ayam. Asal hasrat syahwatnya sedang ”on”, tak peduli di gudang mesjid, tak peduli dirinya seorang guru ngaji, sejumlah santri wanitanya yang cantik langsung disosornya.
Di sebuah pondok pesantren Desa Kauman Kecamatan Parakan, sudah beberapa waktu lamanya ustadz Achyar direkrut sebagai tenaga pengajar. Pegang mata pelajaran agama atau umum, tak diketahui jelas. Yang pasti, di luar profesinya dia merupakan sosok lelaki mata keranjang. Setiap melihat barang bagus nan mulus, hasratnya langsung bangkit. Tadinya hanya 110 volt, mendadak jadi 240 volt macam standar strom PLN. Sayang kan, sebagai guru agama kok dia punya iman kalah sama ”si imin”.
Padahal sesuai dengan usianya, di rumah Achyar juga sudah punya ”kendaraan” pribadi yang bisa dipakai kapan saja. Celakanya, di rumah sendiri dia sudah merasa jenuh, karena ”menu”-nya hanya itu-itu melulu. Padahal sebagai lelaki muda yang penuh enerjik, Achyar membutuhkan diversifikasi menu. Jadi ibarat sayur, jangan tiap hari sayur lodeh melulu. Sekali waktu boleh opor, sambel tumpang, bumbu rujak atau gudeg komplit.
Kebetulan murid-murid wanitanya banyak yang cantik, enak dipandang. Di sinilah Achyar menjadi lupa diri, karena ingin menjadikan mereka sebagai ”menu” tambahan atau suplemen. Dan setan memang sangat mendorong tekad oknum ustadz ini, karena soal yang demikian itu memang satu misi dan visi. ”Pokoknya, bersamaku semuanya bisa, Bleh…..”, kata setan.
Demikianlah, satu persatu si murid diperdayai, dengan disuruh membersihkan gudang mesjid. Tapi setelah korban di dalam pintu segera dikunci, dan aksi mesum itu terjadi beralaskan karpet. Para korbannya tak berani mengadukan skandal gurunya ini, karena diancam selesai berbuat.
Tapi ada Maisaroh, 17, yang cukup berani. Merasa berdosa jadi korban pelecehan seks oleh gurunya, dia mengadu kepada pemilik ponpes.  Segera saja ustadz yang bikin rusak nama lembaga itu dilaporkan ke polisi dan ditangkap. Dalam pemeriksaan di Polsek Parakan Achyar mengaku, ada sekitar 6 yang telah dicabuli, dari yang sekedar dipegang-pegang sampai digoyang. “Nggak tahulah, tiba-tiba nafsu saya bangkit dan tak mampu menahannya,” katanya polos.
Buruan pulang ketemu istri kan bisa, Bleh. (KR/Gunarso TS)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar