Minggu, 13 Februari 2011

Perempuan Itu Telah Mengikis Habis Cinta Suamiku



Sepertinya aku sudah enggan memendam lama rasa ini. Semua derita ini harus diakhiri. Bagiku….. cukup sudah aku menjadi perempuan setia untuk lelaki yang tidak mengerti apa itu kesetiaan. Pergi dan berlari sejauh mungkin, lepas dari jangkauan angan adalah pilihan terbaik……….!!!!!!

PANGGIL saja aku Yuni…… Usiaku kini sekitar 30 tahunan. Dan aku hidup sendirian, tiada belahan jiwa, seperti hari-hari kemarin. Tapi aku merasakan kebebasan rasa, yang sempat terbelenggu.
Bayangkan...... Selama ini aku berusaha menjadi istri yang baik untuk Yudi, suamiku. Semua aku korbankan, termasuk aku ikhlas hanya menjadi ibu rumah tangga, dengan meninggalkan pekerjaanku. Semua itu aku lakukan demi menuruti kehendaknya. Dan aku yakin suamiku tidak akan mengkhianati kesetiaan dan pengorbananku itu.

Tapi akhir-akhir ini keyakinanku mulai goyah. Aku mulai merasakan ada yang berbeda dan berubah dari suamiku. Kejujurannya mulai kuragukan, dan sikapnya yang selalu mencari kesalahanku memunculkan segudang tanya, yang memenuhi batok kepalaku. Ada apa di balik semua ini?

Dan kegelisahanku itu akhirnya mulai terjawab, saat aku membaca sebuah SMS di ponselnya. Ternyata mulai ada perempuan lain yang menggoda hatinya. Aku tidak tahu siapa perempuan itu? Dan akupun juga tidak berusaha mencari tahu.
Namun, sikap diamku tak bertahan lama. Rasa penasaran itu begitu kuatnya, hingga menuntutku untuk melakukan penyelidikan. Walau masih diliputi keraguan kebenaran perselingkuhan suamiku, aku tetap melanjutkan penyelidikan.

Dan ketika akhirnya penyelidikanku mulai mendapatkan titik terang pada jawaban atas tanyaku selama ini, justru keraguan menggelayuti benakku. Benarkah suami yang sangat aku cintai dan sayangi tega membagi hatinya?

Namun…di tengah keraguan itu, justru aku mendapatkan jawaban. Jawaban itu aku dapat dari pengakuan suamiku. Sungguh saat itu aku hanya berusaha menanyakan padanya kebenaran isu yang beredar diluaran. Dan saat itu aku masih sangat berharap dia akan menenangkanku dengan mengatakan semuannya itu bohong. Tapi ini tidak. Yudi justru terang-terangan mengakui perselingkuhannya.

Sakit…??? Sudah pasti. Perempuan mana yang rela melihat suaminya berbagi cinta dengan yang lain? Perempuan mana yang tidak marah bila kesetianku justru berbalas pengkhianatan? Bayangkan Suami yang sangat aku cintai dan sayangi rela membagi cintanya pada perempuan lain. Yang lebih menyakitkan, perempuan itu adalah rekan sekerjanya.

Ingin rasanya saat itu aku berlari ke dapur, mengambil pisau, lalu menghujamkan ke uluh hati suamiku. Puas rasanya bila melihatnya terkapar dengan darah mengenangi tubuhnya. Tapi semua itu hanya sebatas angan saja. Kenyataanya, kakiku langsung lemas, tubuhku luruh di lantai, dan tenggoranku tercekal.

Ingin rasanya saat aku berucap beribu kata, coba menyentuh hatinya. Ingin rasanya aku katakan padanya, agar sudi mengerti dan memahami arti cinta yang sesungguhnya. Aku juga ingin mengatakan padanya, betapa indahnya kesetiaan, juga pengorbanan untuk cinta. Tapi lidah ini terasa kelu…..

Hari-hari selanjutnya yang adanya hanyalah diam. Aku merasa menjadi orang asing di rumahku sendiri. Sikap suamiku yang mengacuhkanku membuatku semakin merasa sendiri.

Karenanya kuberanikan juga untuk bicara. Berharap pembicaraan itu akan berujung pada satu titik perdamaian. Tapi semua itu hanya mimpi. Sikap diam yang kami tunjukkan selama ini membuat pembicaraan justru menjadi tempat penghakiman.
Namun itu belumlah seberapa. Yang membuatku shock adalah ketika akhirnya keluar kata cerai dari mulut suamiku. Karena kata-kata itu dikeluarkan dengan nada meninggi, harga dirikupun meronta, dan akupun balik menantangnya.

Bagiku….cinta….juga kasih sayang…..yang dulu bersemayam dalam diri suamiku kini telah terkikis habis. Karenanya, daripada memendam sakit lebih baik diakhiri, walau jujur aku sangat membenci perceraian. Karena jujur aku masih sangat menyayangi sumiku.

Tapi keputusan telah aku buat. Dan itu adalah harga mati. Aku berharap dengan pergi dari hidupnya aku bisa mendapatkan ketenangan. Walau aku sadar, sakit itu akan bertahan lama, dan siap menghempaskanku dalam jurang luka. Tapi aku tak lagi punya pilihan. Biarlah….dan biarlah aku jalani. Aku yakin suatu saat aku pasti akan mendapatkan bahagia. Walau itu entah kapan………?????
(Seperti dikisahkan Yuni pada wartawati Tri Suryaningrum dari surabayapagi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar