Selasa, 14 September 2010

Fakta Seputar Pil KB,Pil KB Legalkan Seks Bebas

Er Maya Nugroho telah menulis tentang Fakta Seputar Pil KB,Pil KB Legalkan Seks Bebas dan dirilis oleh Suara Merdeka pada 06 September 2010 | 12:08 wib.


PIL kontrasepsi oral atau yang populer disebut pil KB telah banyak membantu wanita mengendalikan kehamilan selama setengah abad ini. Tapi benarkah pil KB bisa menurunkan libido seks?

Banyak dari wanita mengatakan bahwa mereka tidak dapat lagi membangun hubungan romantis yang langgeng dengan pasangan dan mereka mengalami kesulitan mencapai orgasme. Para pengonsumsi pil KB ini bahkan mengalami kesulitan mendapatkan mood seks yang bagus.

Benar, bahwa pil dan alat kontraspesi hormonal lainnya memiliki sejumlah efek di dalam tubuh yaitu mencegah ovulasi dan kehamilan. Karena kebanyakan kontrasepsi oral yang ditawarkan di pasaran menggunakan estrogen dan progesteron sintetik (progestin) untuk mencegah kehamilan.

Pil KB sendiri bekerja dengan cara menjaga tubuh dari pelepasan sel telur, karenanya risiko kehamilan bisa dihindari. Menurut Modern Mom, Pil KB ditengarai mengurangi jumlah hormon testosteron (hormon yang bertanggung jawab meningkatkan libido) bebas di dalam tubuh yang memicu timbulnya masalah seksual, sehingga wanita akan kesulitan mencapai orgasme.

Selain itu, jika seorang wanita mengalami orgasme yang tidak teratur, tubuhnya tidak akan banyak memproduksi oxytocin, yaitu hormon pengikat kegesitan testosteron sehingga berakibat mengurangi intensitas kemesraan dengan pasangan.

Bahkan dibeberkan pula oleh Modern Mom, akibat gejala penurunan libido, wanita yang mengonsumsi pil KB jarang sekali memikirkan seks. Hal ini dikarenakan jumlah produksi lubrikasi pada wanita cenderung sedikit sehingga mereka kurang merasakan kepuasan seksual.

Berikut ini beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentang pil KB

Bad mood dan depresi

Sebagian wanita merasakan bahwa mood mereka berubah jelek dan mengalami depresi justru saat mereka menggunakan kontrasepsi oral (hormonal). Mekanismenya, hormon progestin dalam pil KB meminimalkan tingkat serotonin di dalam otak.

Serotonin sendiri adalah hormon yang memicu tubuh untuk lebih rileks, sehingga penggunanya merasa lebih bahagia dan sejahtera. Jadi, tak heran jika pil KB lalu bepengaruh pada tingkat depresi wanita. Bukan tidak mungkin, semakin sering dikonsumsi, hormon serotonin dalam tubuh akan semakin terkuras habis.

Namun ternyata, wanita yang menderita severe premenstrual syndrome atau premenstrual dysmorphic disorder (PMDD) justru merasakan bahwa pil KB bisa mengurangi mood.

Seks menyakitkan

Seperti sebuah pakem, pria merasa egonya diatas langit manakala melihat pasangannya bisa terpuaskan. Namun jika ketidakpuasan itu terjadi secara teratur, bisa dipastikan hubungan Anda dengannya akan bermasalah, atau parahnya berakhir.

Ya, wanita pengguna kontrasepsi oral pun dihadapkan pada dilema. Mencegah kehamilan adalah keharusan, namun disisi lain seks yang dijalani dengan pasangannya pun berakhir menyakitkan. Saat hormon estrogen dalam tubuh berkasitas lebih rendah dari normal, jaringan otot pada vagina akan mengalami penipisan. Hal inilah penyebab rasa sakit saat berhubungan seks (dispareunia).

Mempengaruhi hormon pheremones

Pil KB ternyata juga sangat mempengaruhi hormon feromon (Pheromones) dalam tubuh wanita. Inilah hormon yang mampu membuat pria bertekuk lutut pada wanita. Daya pesona yang terpancar itu berasal dari sinyal kimia yang dihasilkan homon Pheromones.

Sinyal kimia yang dihasilkan oleh jaringan kulit khusus yang terkonsentrasi di dalam lengan itu bisa dirasakan melalui hidung atau indra penciuman. Seperti sebuah ungkapan lama saja, "dari mata turun ke hati", tapi kali ini "jatuh hati dari hidung lalu turun ke hati".

Namun dalam sebuah presentase di London, para peneliti sempat mengatakan bahwa produksi pheromone dalam diri wanita akan terhenti jika si wanita mengkonsumsi pil KB. Dalam penelitian terhadap beberapa wanita muda yang belum memiliki pasangan dan mengonsumi pil KB secara bebas, ditemukan bahwa ternyata mereka jadi merasa kurang seksi, serta bosan mencari dan mendapatkan pasangan.

Sulit hamil

Meski terbilang aman mencegah kehamilan, faktanya dalam sebuah penelitian yang pernah dilakukan, terungkap bahwa kebanyakan wanita pengguna kontrasepsi oral ini justru mengalami kesulitan hamil. Hal ini karena berhembusnya mitos, bahwa pil KB menyebabkan kandungan kering, lantaran meminum pil itu menstruasi menjadi lebih sedikit dan lebih pendek. Ada pula kecenderungan, pengguna kontrasepsi hormonal ini bisa juga tertular Infeksi Menular Seksual (IMS). Dengan anggapan kontrasepsi ini aman, maka saat berhubungan, mereka lalai tidak menggunakan pengaman (kondom).

Pil KB legalkan seks bebas

Meski lazimnya Pil KB dikonsumsi wanita yang sudah menikah dan ingin mengontrol kehamilannya, namun faktanya 'keamanan' pil KB sebagai pencegah kehamilan diterapkan juga pada pelaku seks bebas. Hebatnya, kini pil KB juga dikonsumsi anak baru gede (ABG) belasan tahun.

Kasus ini memang baru terjadi di Inggris, tapi derasnya pemberitaan media soal seks membuat para ABG penasaran dan ingin mencoba menggunakan pil KB sebagai pengaman hubungan seks bebas yang mereka lakoni.

Tercatat, sudah lebih dari 1.000 anak perempuan usia sekolah menengah pertama telah menenggak resep pil KB secara ilegal dan 200 anak lainnya melakukan implan alat kontrasepsi dan suntik KB jangka panjang.

Jumlah ini melonjak lima kali lipat dari dekade yang lalu. Akibatnya, Inggris kini tercatat sebagai negara yang memfasilitasi seksualisasi pun melegalkan seks bebas di bawah umur.

Solusi, pil KB dosis rendah

Setiap wanita pasti merasakan reaksi berbeda terhadap kontrasepsi hormonal yang mereka gunakan. Tapi, jika Anda menduga pil KB yang digunakan selama ini berimbas pada mood atau libido, mungkin benar.

Untuk mengatasinya, gunakanlah pil KB dalam dosis lebih rendah agar gejala-gejala yang Anda rasakan bisa diminimalisir. Jika memang perlu, Anda juga bisa menggantinya dengan jenis pil berbeda. Anda bisa juga beralih pada pilihan kontrasepsi hormonal lain yang lebih rendah, seperti IUD, yang efektif mengendalikan kehamilan tanpa memengaruhi mood dan gairah seks, serta depresi.
(maya/CN19)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar